Jablay…!


Titi kamal

JABLAY—JARANG DIBELAY…!?

(CIAMIS,04/07/2016). Bandara Cengkareng, Soekarno-Hatta suatu malam. Seorang wanita sedang menunggu di terminal keberangkatan. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.
………………………………………………
Jakarta-Batam, rute yang harus ditempuhnya.Ia sudah terbiasa menempuh perjalanan udara. Meski akhir-akhir ini dunia penerbangan Indonesia kerap dilanda musibah dan kecelakaan. Wanita itu berusaha rileks sebab tidak ada alternatif lain untuk tiba di Batam. Lewat laut lama, dan jangan-jangan malah terbakar atau tenggelam.
Ia sendiri saja.Untuk membuang waktu dan mengusir kegetiran kecelakaan pesawat yang sering terjadi, dibelinya buku dan sekantong kue di toko bandara. Ia pun menemukan tempat duduk yang bisa membuatnya sedikit santai dalam kesendirian di tengah banyak orang.
Sambil duduk, wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Nampaknya ia ke-rap memilih kegiatan membaca sebagai teman sepinya. Sehingga tak jarang ia larut dalam kebiasaannya itu. Lupa keadaan di sekitarnya.
Namun ia pun menoleh ketika sudut matanya melihat lelaki di sebelahnya sedang memakan kue. Wanita itu ter-sentak dan tiba-tiba merasa tidak suka pada lelaki di sebelahnya.
Bagaimana tidak, lelaki itu dengan begitu berani mengambil satu atau dua kue yang berada diantara mereka. ‘Gilanya’ lagi lelaki itu melakukannya dengan tersenyum!
Si Wanita tersebut mencoba bersabar, ia tak ingin keributan terjadi hanya karena kue.
Si Wanita itu kembali membaca, namun juga tak mau kalah oleh lelaki di sampingnya, ia mengambil kue dari tempat yang sama dan mengunyahnya. Namun tentu saja ia melakukannya terbatas karena sedang konsentrasi membaca.
Si Wanita melihat jam. Menit-menit berlalu, dan si Pencuri Kue yang pemberani itu menghabiskan kue persediaannya. Ia semakin kesal.
Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia!”
Bayangkan saja, setiap ia mengambil satu kue, si Lelaki juga mengambil satu kue. Dan ketika hanya satu kue tersisa, keduanya beradu tatapan. Si wanita bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Makin ‘gila’ dengan senyum tawa di wajahnya Si lelaki mengambil kue terakhir dan membagi dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya semen-tara ia makan yang separonya lagi. Si wanita dengan refleks merebut kue itu dan berpikir, “Ya ampun orang ini berani sekali! Sudah kasar, ia juga tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal, seperti malam itu. Akhirnya ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.
Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang untuk segara masuk pesawat. Si Lelaki pencuri kue ditinggalkannya, tak perlu harus lapor ke polisi atau security bandara hanya karena kasus pencurian kue di bandara. Habis waktu untuk itu. Si Wanita pun menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih”.
Si wanita berusaha cuek dan melupakan peristiwa tadi. Ia masuk pesawat dan duduk di kursinya. Lagi, ia belum puas membaca, sehingga buku tadi dibukanya. Nampaknya masih beberapa ha-laman yang penasaran untuk dibacanya.
Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Di situ ada kantong kue yang tadi ia beli di toko bandara. Ia mengambilnya dan kini kue itu ada di depan matanya!
Seketika ia pun lemas. Remuk hatinya. Ia ingin keluar dulu mencari lelaki itu, namun pesawat sudah take-off. “Ya Tuhan, ternyata kue milikku ada disini!” erangnya dengan patah hati.

*

Kawan, kisah di atas adalah kisah sejati. Nyata. Seorang teman mengisahkannya pada saya melalui email, ketika saya telah kembali ke tanah air setelah berkunjung beberapa hari di Malaysia dan Singapura tahun 2005.

Saya bisa merasakan apa yang dirasakan wanita itu. Begitu bodoh dan teledornya ia merespon kejadian di sekitarnya. Ia salah menilai, mengingat, berpikir dan berkomunikasi dalam waktu selama itu. Akibatnya fatal, menuduh, memfitnah, membenci dan mencap buruk orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya.Walau hanya dalam tatapan, sikap, reaksi dan hati, justru itu menyakitkan bagi orang yang tidak bisa berlapang dada menerimanya. Untungnya lelaki itu sungguh putih hatinya.

Kawan, kue tadi adalah milik lelaki itu. Si wanita menyangka si lelaki itu mencuri miliknya padahal si lelaki dengan kebaikan, ketulusan dan kede-wasaannya mencoba berbagi. Tak ada benci, bentakan dan sikap kasar dari lelaki itu. Sama sekali.

Jarang Dibelai
Dalam hidup sehari-hari kita sering melakukan kesalahan atau menemukan kisah seperti di atas. Ketika merasa orang lain merasa ‘mengganggu’ kita, kita cepat bereaksi negatif. Padahal kehadirannya belum tentu berpotensi negatif.

Kita sering mencap orang lain jahat, amat jahat. Atau mencap orang lain kasar. Brutal. Tidak ber-perasaan. Nyatanya kitalah yang jahat, brutal, sadis dan tak berperasaan. Kita sering melupakan kesalahan-kesalahan yang dirasa kecil, padahal juga melakukan kejahatan-kejahatan besar yang orang lain tidak tahu atau tak peduli tahu. Kita membenamkan keburukan kita untuk mengangkat citra kita sementara orang lain yang melakukan kesalahan kecil, tidak ridho bergerak ke depan mencapai kemuliaan dalam hidupnya.

Selama ini kita berpikir:

Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih.
Dan dialah pencuri itu !
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan”kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.”
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran”
Padahal
Kita sendiri yang mencuri
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih
Maling teriak maling?

Kita pun sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain. Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya. Sering kita tidak sadar hal itu. Dan ketika sadar nyaris terlambat untuk minta maaf dan meraba diri.

Bersikap, bertindak, menilai, merespon, berpikir dan berperasaan ternyata memang perlu latihan. Manusia adalah makhluk yang sesungguhnya bisa bertanggung jawab pada dirinya selagi ia sadar bahwa kehidupan bahkan kematiannya kelak bukan untuk ditanggung orang lain tapi dirinya sendiri. Ia akan hati-hati dan berusaha mengembalikan dirinya sebaik mungkin.

Kesadaran akan hal itu bisa timbul bila kita mampu memanajemen kalbu kita. Mengasah rasa kita. Melatih kepekaan, menjernihkan hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang senantiasa bersih relatif lebih siap merespon sesuatu dengan bersih pula. Dilihat, dipikir, ditimbang, dinilai, disikapi, pada akhirnya berbentuk dalam prilaku dan tindakan yang bertanggung jawab.

Saya ingat lagu dangdut yang lagi hit, “Jablay”. Titi Kamal, si penyanyinya hanya mewakili kege-lisahan dan kesedihan para wanita yang jarang di-belai suaminya, karena sang suami jarang pulang. Jablay atau Jarang Dibelai, menyadarkan kaum Adam bahwa seorang istri manusiawi merindukan kasih sayang pasangannya. Namun suka dibelai menurut saya tidak terbatas secara pisik. Lebih dari itu, luar dalam perlu dibelai. Perlu, bukan hanya untuk seorang istri.

Kekeliruan, kesalahan, prasangka buruk, fitnah, kurang hati-hati, terjadi karena hati kita jarang dibelai. Agar hidup tertuntun di jalan lurus maka belailah dengan siraman rohani keagamaan. Agar hati kita peka pada penderitaan orang lain, belailah dengan kasih sayang. Agar kerja kita bertanggung-jawab, berkualitas, belailah dengan niat tulus berbakti pada negeri, berjihad menghidupi anak dan istri. Agar mengajar kita kian disukai, belailah dengan kreatifitas dan ilmu-ilmu yang menghausdahagakan semangat anak didik kita talabul ilmi. Agar kita tidak salah sangka, belailah hati kita dengan kebiasaan berbaik sangka. Agar kita tersadar tidak jadi maling baik sekala kecil maupun besar , belailah dengan intropeksi diri. Agar hidup tidak terus bergelimang dosa belailah dengan tobat siang malam.

“Lalalalalalay… aku jarang dibelai.” Moga-moga tidak terus berjablay ria.***


Melayani Hypnotherapi, Hypnotis Training,&  Ruqyah Syar’iyyah Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 58640EF8, atau https://drgumilar.wordpress.com/2014/01/15/hypnosis-shot-indonesia/***

Komentar ditutup.