Nikmati Proses…??


http://niatnulis.files.wordpress.com/2007/09/monyet.jpgSebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan. Selebihnya terserah Allah SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menangkalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena Allah SWT dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.
Seandainya sepakat saat ini, Anda diajak untuk merenungkan ketika saya bertugas menjadi seorang guru, mengajar siswa Sekolah Dasar (SD) di tempat terpencil di daerah SD Cadasbodas di tengah hutan Sancang–Garut. Daerah itu hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki seharian penuh melintasi hutan jati, hutan karet, semak belukar, dan menyebrangi sungai tanpa jembatan. Di saat perjalanan tak jarang berpapasan dengan sekawanan babi hutan liar, gerombolan monyet dan binatang liar lainnya.
Pada musim daun jati kena hama ulat hijau sekecil lidi kelapa, ribuan ulat bergelantungan pada benang putih yang dibuat ulat menghalangi jalan, sehingga pada saat berjalan tubuh yang berkeringat karena perjalanan jauh dikerubuti ulat hijau. Sangat menjijikan…! Daun-daun jati bolong-bolong tampak hanya tinggal ranting-ranting karena digerogoti oleh ulat yang masanya makan sebanyak-banyaknya sebelum mereka bertapa menjadi kepompong. Pada saat tertentu kepompong akan menjadi kupu-kupu yang ber-terbangan berwarna indah.
Bangunan SD berdiri di atas bukit jauh dari pemukiman penduduk, kayu-kayunya sudah keropos, dan tak berpintu karena pintunya hancur, dinding temboknya ada yang jebol. Sehingga dari dalam kelas bisa melihat leluasa ke luar kelas. Atap bangunan sekolah dicampur terbuat dari alang-alang dan genting, sehingga kalau musim hujan ruangan kelas berubah menjadi kubangan air, becek karena lantainya tanah.
Saat itu tenaga pengajar hanya satu orang guru dan satu orang kepala sekolah. Sedangkan jumlah siswa 160 orang. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mengajar memegang 6 (enam) kelas.
Pernah suatu waktu pada saat upacara bendera di halaman sekolah, sedang khidmat-khidmatnya, tanpa diduga segerombolan Lutung (sejenis monyet) berkerumun di atap sekolah. Para monyet yang tidak berpikiran itu, ada yang meloncat-loncat, bergelantungan, ada pula yang memperhatikan siswa yang sedang upacara. Mungkin aneh melihat manusia sedang berjejer rapi menghormat bendera di tiang bendera. Tanpa diduga ada monyet nakal langsung dari pohon pinggir sekolah meloncat bertengger di atas tiang bendera…maka meledaklah suasana hening. Saat hidmat menghormati naiknya bendera diiringi lagu Indonesia Raya, berganti dengan suara riuh rendahnya tawa yang ngakak bahkan cekikikan dari para siswa. Di belakang ada siswa berteriak, “Pada Lutung Nu Ngagantuuuuung hormaaaat graaaaaaak….!”
Tak pelak lagi semua siswa tertawa ngakak. Saya sebagai Pembina upacara tak tahan tersenyum, dan langsung memerintahkan siswa untuk menghalau “Lutung Kasarung “.
Akhirnya gerombolan lutung berhasil dihalau lari pontang-panting melarikan diri meloncat ke pohon di samping bangunan sekolah yang berdekatan dengan hutan lebat, ka-rena takut dikeroyok puluhan siswa sambil berteriak:
“Ouooooouuo Ouuooouuuoooo…!!!”, meniru gaya Tarzan Kota.

Jalan dan Distribusi Rejeki

Di daerah itu saya hidup bujangan, tinggal di sebuah ruangan kelas yang disekat-sekat menjadi tempat tidur, dapur, sekaligus kantor sekolah. Bila malam hari tiba yang terdengar adalah suara binatang malam bersahut-sahutan membuat hati semakin sunyi. Gelap malam seakan menelan bulat-bulat dunia. Sebab ketika jaringan listrik belum ada, penerangan hanya menggunakan lampu cempor. Untuk menikmati malam yang sunyi, terkadang ada siswa atau beberapa pemuda sekitar yang menemani karena kasihan pada Ujang Guru sendirian tinggal di atas bukit.
Karena bertugas di daerah terpencil, makanan sulit didapat. Harga-harga bahan makanan pokok justru relative mahal, sehingga gaji CPNS tidak cukup untuk satu bulan, membuat pusing mengaturatur keuangan. Harga mahal karena ke pasar sangat sulit dijangkau, hanya bisa dengan jalan kaki dan jauh letaknya.
Saat mulai jadi guru, tak cukup kata untuk melukiskan betapa susahnya hidup di daerah terpencil. Artikel inipun tak akan cukup untuk melukiskan penderitaan nasib Gurdacil. Mungkin pengalaman ini pernah sama dialami oleh Mr. Acuenk, Kang Wawan, Kang Owoy, Ceu Henny, Kang Rosid, Kang Dodi. Atau mungkin pengalamannya lebih dahsyaat Euuy..!
Dalam urusan mencari nafkah, misalnya menjadi guru, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari hasil menjadi guru itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari Allah SWT dan semua pasti mendapatkannya. Kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi Allah SWT untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.
Walhasil yang terpenting dari usaha dan ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama melaksanakan kerja itu kita selalu menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita, bagaimana ketika bekerja kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak.Bagaimana ketika sedang bekerja benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.
Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena Allah SWT Mahatahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani.
Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siapa pun yang sedang menjalani mencapai sesuatu bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses. Termasuk ketika kuliah bagi para mahasiswa, kalau kuliah hanya menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata Imam Ali, “Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya”. Kalau hanya ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang.
Pada suatu saat berdialog dengan Kang Epot yang terkenal sebagai “Penguasa Dunia Kaneron”, di Radio Diks FM, sering terlontar: “Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.”
“Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga: ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai. Begitu kata Kang Epot bersungguh-sungguh.
Ah, Sahabat dimanapun berada…! Kalau kita selama kuliah karena dikejar target, selama sekolah, selama kursus, selama Diklatpim IV, III, dan II kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, dan etika, lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.
Saat melamar pada jabatan tertentu (Kepala Sekolah, Kepala Seksi, Kepala Bidang atau Kepala Dinas, …) kita harus siap menerima kenyataan bahwa jabatan yang dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah mengajukan ke atasan kita, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pelantikan ternyata jabatan jatuh pada orang lain yang kompetensi competitive advantage dan comparative advantage jauh di bawah kita. Sakit hati sih wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak jadi mendapatkan jabatan itu. Siapa tahu Allah SWT telah menyiapkan jabatan lain yang lebih cocok.
Atau sudah dilantik, diambil sumpah jabatan, dan sudah siap untuk bekerja menduduki kursi jabatan yang diidam-idamkan, tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal untuk jabatan itu . Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan nikmat dan pertolongan dari Allah SWT, karena kalau mendapat jabatan itu akan menjadi seorang koruptor yang merugikan khalayak ramai, Allah SWT tahu kapasitas keimanan dan kapasitas keilmuan kita.
Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan Allah SWT. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat Allah SWT memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedu-dukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.
Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.
Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.
Saat kita naik mobil umum berdesak-desakan bau keringat, panas, mobilnya sudah butut, jalannya juga butut persis kubangan kerbau, jarak perjalanannya masih jauh…! Mungkin saat itu keluar sumpah serapah: “ Aduh bararau aki-aki tujuh mulud, bau kelek, … bau tujuh rupa pisan, cangkeul, panas hareudang….beduuul teh.! . Pamarentah teh euweuh kahayang kitu ngahadean jalan nu hampir bararutut kabeh. Pak Camat kenging inventaris mobil Daihatsu Terios teu karaos nganggo jalan butut oge, kuringmah numpak mobil umum, bujur beuki tepoossss..!! “ Sumpah serapah yang paling pedas pun tak akan merubah keadaan saat itu menjadi lebih baik, sebab kenyataannya seperti itu. Yang terbaik adalah nikmati proses saat itu!
Oleh sebab itu, sahabat-sahabatku nikmatilah proses apa pun…..sebagai ladang amal!. Nikmatilah proses hal kebaikan apapun, dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah orang mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. Marilah bersama-sama belajar untuk menikmati proses… dan berusaha lebih baik!!. Wallohualam…***

Komentar ditutup.