Sana-sini Fitnah & Kekerasan


Kita sedang digiring menuju masyarakat yang pintar bermain konflik. Setiap hari media massa mengajari bagaimana membuat pertikaian, pertentangan dan permusuhan. Dari ‘kursus’ jarang jauh itu dua ‘pelajaran’ yang paling gampang ditiru adalah fitnah dan kekerasan……
Sebuah keluarga setiap malam berkumpul menonton sinetron. Di samping kiri kanan, depan belakang rumah mereka, tetangganya juga begitu. Mereka (ayah, ibu dan anak) karena sinetron yang ditontonnya menjadi histeris, sedih, sebel, jengkel atau marah. Emosi mereka terlibat begitu sempurna dalam alur cerita sinetron. Lalu ketika iklan muncul, episode penuh ketegangan dan kekerasan itu terpotong, yang terjadi caci maki karena iklan kelamaan atau kelewat banyak.Seakan mereka ingin tiada henti melihat konflik.
Begitu hapalnya mereka pada banyak sinetron. Mulai dari jam tayang, tokoh dan penokohannya hingga bagaimana para pelaku membuat kisah, memulai membuat peta konplik, mengatur konflik hingga memanfaatkan konplik. Manajemen konflik dan kehidupan hitam putih dihadapkan pada mereka, seakan begitu gampangnya membuat permusuhan, namun begitu sulitnya menciptakan perdamaian.
Disadari atau tidak sejak negeri ini membuka kran reformasi, demokrasi yang di dalamnya ada kebebasan pers/penyiaran, media massa cetak dan elektronik berlomba menyuguhkan berita/tontonan yang diyakini bakal menarik perhatian publik. Provit orientied telah mengalahkan pertimbangan-pertimbangan moral, etika, nilai sosial hingga agama. Belasan ribu orang yang bekerja di bidang entertainment, media elektronik, film yang berada di ibukota negara dan kota-kota besar hidup menjadi layak bahkan berlebih, namun secara perlahan jutaan masyarakat Indonesia secara mengejutkan cenderung mengabaikan agama, nilai ketimuran dan rasa kemanusiaannya.
Faktanya setiap waktu kita lebih dekat pada situasi konplik dan permusuhan. Di keluarga jadi rawan keretakan, di masyarakat jadi gampang bermasalah. Di negara jadi dekat dengan disintregritas. Bila dikaji, inti penyebab kondisi kacau itu adalah fitnah dan kekerasan.
Fitnahan
Pada tingkat elit, fitnah atau tuduhan palsu sering ditujukan untuk menjatuhkan lawan atau saingan. Bukan hanya pada tingkat pusat, di elit lokal pun senjata fitnah menjadi senjata pamungkas dan ‘mengasyikan’ untuk dijalankan. Ketika tuduhan diangkat ke publik, maka pihak tertuduh langsung tersudutkan. Masyarakat jadi berpihak pada penuduh, dan bukannya bersabar atau berpikir jernih mencari atau menunggu kebenaran muncul. Saat itu pihak penuduh menjadi girang dan lega, sebaliknya tertuduh menjadi kacau dan terpukul.
Dalam kondisi itu terlepas benar atau salah tuduhan itu, nampak pihak penuduh begitu mudah melakukan penuduhan. Informasi, dugaan, keyakinan, data, diangkat begitu gampang dan komplit. Media massa pun memback up dengan memberi ruang yang luas untuk berita tuduhan itu seakan memastikan, hanya satu kali pengungkapan pun pasti si tertuduh adalah bersalah. Sebaliknya begitu sulit dan berat pihak tertuduh untuk merehabilitasi nama baiknya atau mengungkap ketidakbenaran tuduhan itu. Ruang seolah jadi terbatas, dan orang jadi cukup puas hanya mempercayai prasangka penuduh.
Para penuduh atau tukang fitnah selalu berlindung di balik misi palsu mengangkat kebenaran dan keadilan atau hukum.Kita sangat menghargai pihak-pihak yang berusaha menghidupkan kasus lama untuk dicari kebenarannya atau kasus baru untuk diketahui masyarakat, namun bila itu hanya untuk numpang jalan mencari posisi strategis, materi, popularitas, balas dendam atau sensasional, harus berpikir dalam bahwa bahaya fitnah jauh lebih besar dan mengerikan bagi dirinya, pihak terteduh, keluarga dan masyarakat.
Iklim demokrasi yang di dalamnya ada ‘kemudahan’ semua pihak ikut menegakkan hukum memberi jalan gampangnya menuduh orang. Akibatnya ada banyak elit terseret ke sel tahanan karena benar bersalah, namun banyak juga elit jadi korban fitnah, tidak bersalah namun masuk penjara. Yang terakhir ini patut dibela meski kita hanya mampu sebatas berkata, “kasihan dia….padahal..”
Bahaya Fitnah
Agama menjelaskan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Bahaya fitnah memang sangat mengerikan. Membunuh secara fisik itu hanya bagian kecil dari bahaya fitnah. Karena fitnahan orang bisa terbunuh segala-galanya bukan hanya fisik tapi juga fsikis, kejiwaan, nama baik dan keturunannya. Orang yang kena fitnah seumur hidup bisa menderita, namun orang yang terbunuh berarti ia di dunia tidak lagi hadir.Jadi prinsip pesimistisnya, “lebih baik dibunuh daripada difitnah seumur-umur!”
Pada tingkat elit, paling tidak sedikitnya ada dua bahaya fitnah, pertama membunuh karier, kedua membunuh karakter. Ketika seseorang sedang dalam kondisi menyenangkan dan tenang dalam jabatan dan kariernya, harus diwaspadai bahwa bukan tidak mungkin di sekitarnya ada pihak yang menginginkan posisinya. Karena kualitas diri, kompetensi, prestasi dan rasio sehat tidak mampu lagi dijalankan untuk meraih sebuah posisi, maka cara memfitnah menjadi cara yang ampuh mematikan.
Fitnah dijalankan bisa berupa tuduhan atau isu. Seseorang difitnah, dituduh selingkuh, asusila, atau mencuri, menipu, menyalahi aturan dan jabatan, menggelapkan uang, korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan tuduhan itu, black propaganda dijuruskan. Pencemaraan, pengikisan, dan penghancuran nama baik dimulai.
Ketika kena fitnah, si tertuduh menjadi kacau pikirannya, kerjanya pun berantakan. Tidak tenang dan merasa tak aman.Dalam waktu singkat nilai kerjanya anjlok. Temannya berubah menjadi pihak yang membencinya, menjauhi dan tak mau kerja sama. Padahal sebelumnya begitu akrab dan hormat. Atasannya pun tak lagi menaruh kepercayaan. Desakan muncul, ia pun dinonaktifkan, dipindahkan atau bahkan langsung dipecat.
Seseorang yang dipecat atau kariernya terbunuh, berarti terputus pula rejeki buat dirinya untuk saat itu atau waktu yang tak pasti. Bila ia sebuah individu untuk dirinya, paling hanya kehilangan kesempatan untuk hidup layak, ia miskin, menderita haus dan lapar. Namun bila ia adalah bagian dari sebuah keluarga yang bertanggungjawab, dampaknya sangat luas dan getir. Bisa jadi ia seorang anak yang jadi tulang punggung keluarga. Atau seorang suami untuk istri dan seorang ayah untuk anak-anaknya. Bukan hanya ia yang sulit makan dan minum, namun juga orang-orang di sekitarnya yang selama itu mengandalkan rejeki dari kerjanya.
Karier yang terbunuh menyetop atau menyumbat kesempatan untuk berbuat maksimal dan meraih cita-cita tinggi. Kasihan mereka yang potensial, jujur dan cerdas, melejit kariernya, di tengah jalan jatuh karena fitnahan. Sementara orang yang memfitnahnya belum tentu mampu sebaik dan sekualitas dengan dirinya. Ia sebenarnya punya cara, strategi, langkah briliyan, untuk sebuah pekerjaan demi kemajuan bersama, namun tidak tercapai karena dijegal fitnah.
Ada istilah ‘kebenaran akan selalu muncul dan bau busuk bakal tercium juga’. Namun tidak selamanya kebenaran muncul ketika seseorang yang dituduh masih hidup. Ada juga yang hingga ia meninggal, kebenaran belum juga terungkap. Ia tidak bisa menikmati kebenaran di dunia, berlari lagi di atas kebenaran kecuali menikmati kebenaran di akherat atau di surga. Dengan begitu mungkin ia lebih beruntung, tapi akan lebh untung lagi bila menikmati hidup dengan kebenaran di dunia dan akherat.

Kekerasan
Sepuluh tahun lalu kita menyaksikan kekerasan di film-film Barat, kini acara teve Indonesia bertaburan suguhan kekerasan. Mulai dari sinetron, film, berita hingga kriminalitas dan kasus-kasus keluarga dikemas menjadi program unggulan. Hasilnya kita jadi terbiasa mendengar kekerasan bahkan menyaksikannya langsung. Perkembangan terakhir tindak kekerasan mulai di tiru sebagian masyarakat Indonesia, mulai dari anak kecil hingga kakek nenek.
Tengok di keluarga ketika sebuah sinetron menampilkan pertengkaran seorang ayah dengan anaknya, di masyarakat pun terjadi seperti itu,ayah menampar anaknya atau sebaliknya anak menampar orangtuanya. Guru menampar muridnya atau sebaliknya murid menampar gurunya.Atau murid dan murid beratem,mahasiswa dengan mahasiswa saling serang.satu kampung dengan kampung tetangga tawuran. Hingga akhirnya satu agama dengan agama lain juga berkonplik di Indonesia timur.
Apakah kini bangsa ini menjadi bangsa yang suka kekerasan? Kita patut mencari kepastian ini,sebab bukan suatu hal yang menguntungkan bila kita tetap yakin dengan sebutan bangsa yang ramah, lemah lembut dan bersahabat,sedangkan di masyarakat kekerasan terus merajalela. Perlu kearifan untuk memandang fenomena ini.Sebab ketika kekerasan telah menjadi bagian dari bangsa ini,suatu ketika akan dicap sebagai bangsa yang penuh kekerasan.

Kekerasan dalam Keluarga dan Sekolah
Kekerasan bukan jalan keluar dari suatu permasalahan,kekerasan hanya akan memunculkan kekerasan baru.Demikian juga dalam keluarga menyelesaikan masalah tidak perlu memakai cara kekerasan.
Dalam mendidik anak dan keluarga,kita terkadang tidak sabar berlaku keras dan kasar.Kekerasan tidak selalu berarti pukulan,tamparan,tendangan,namun juga bisa berupa kata-kata.Dalam kata-kata berupa makian,kemarahan,perintah,bahkan nasehat bisa jadi ada kekerasan.Bisa saja hanya lewat kata-kata dalam keluarga kita saLing melukai.
Padahal rasul mengajarkan berlaku lemah lembut dan sayanglah kita pada siapapun.Bukan hanya di kaluarga tapi juga di lingkungan masyarakat termasuk lembaga pendidikan.Bukan jamannya lagi guru mendidik siswanya dengan kata-kata kasar,cacian,dan ancaman.Demikian juga guru harus bisa mengajarkan pada anak didiknya bagaimana mereka berlaku sopan,lemah lembut pada gurunya.ingat sekali guru menampar muridnya,orangtua murid akan menggugat guru,lalu koranpun memberitakannya.Tapi terkadang sebaliknya ketika murid menampar gurunya,itu hanya dianggap berita biasa.
Mengmbalikan cerita bangsa yang lemah lembut,sopan dan bersahabat menjadi tugas lembaga pendidikan yang notabene para guru.Meski kini korban kekerasan terusberjatuhan,guru jangan lelah mengajarkan kasih sayang,sopan santun,persahabatan dan kemuliaan pada muridnya.Ketika tugas itu sudah dan sedang dilakukan guru,apapun hasilnya biarlah pemerintah,pemuka agama,dan masyarakat yang menilainya.sebab tidak mungkin sukses 100% mengajarkan kasih sayang dan keramahtamahan,bila pemerintah malah membiarkan masyarakatnya sendiri menciptakan kekerasan,baik di media massa maupun di lingkungannya.

Komentar ditutup.