Wajah Dunia Pendidikan Kita: Gila Gelar? Gelar Gila?


Wajah Dunia Pendidikan Kita:

Gila Gelar? Gelar Gila?

(CIAMIS,04/03/2008). Di tengah hingar bingarnya pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat yang dapat dipercaya mewakili aspirasi para pendukungnya, kita melihat calon legislatif (Caleg), tidak sedikit yang memiliki ijazah Aspal (asli tapi palsu).Kalau terpilih menjadi anggota DPR/MPR, maka mereka adalah anggota DRP/MPR palsu. Undang-Undang yang akan dibuat pun akan palsu, negara Indonesia pun negara ‘palsu’. Anda dan saya palsu?

Di sisi lai, coba lihat pula, alangkah hebatnya sebagian pejabat di tengah kesibukannya dia dapat menyelesaikan gelar akademis sarjana (S-1)/pascasarjana (S-2)/Doktor dalam waktu singkat. Hanya kurang satu tahun mereka mendapatkan gelar M.Pd.,MBA, M.si, MH dan lainnya, bahkan Doktor.Padahal ke kampus pun jarang datang karena memang tempat kuliahnya pun tak jelas.Bisa di hotel, atau di mana mereka mau. Tahu-tahu sudah mendapatkan gelar akademis yang panjaaaaang!

Masalah membuat skripsi, thesis, atau disertasi tinggal nyuruh bikin pada biro jasa atau ‘ngoray ganti kulit’.Tinggal nyari skripsi lalu ganti kulit, ganti tempat dan ganti waktu.Sementara judulnya persis. Nampaknya sudah tak malu lagi jadi plagiator mencaplok hasil karya orang.
Jangan heran, saat ini banyak lembaga pendidikan tinggi yang menyediakan jasa untuk menyulap Anda dalam waktu beberapa bulan mendapatkan gelar akademis seperti yang Anda inginkan. Mau sarjana, magister, doktor bahkan profesor!Yang jelas bukan gelar ‘Alm’ alias almarhum!

Untuk mendapatkan gelar itu cukup mudah, tinggal keluarkan uang untuk jasa kepala lembaga pemberi gelar, urusan jadi beres! Tinggal diwisuda saja.
Dulu jaman penjajahan Belanda orang berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar bangsawan, baik berupa gelar Raden, Roro, Pangeran, dan sebagainya.Sekarang mirip seperti kembali ke jaman kolonialis, orang berlomba-lomba mendapatkan gelar akademis.Akibatnya ada sebagian orang yang memplesetkan atau mungkin bukan menghinanya seperti, S.Pd. (Sarjana Penuh Derita), M.Sc. (mantan Sopir Colt) M.Ag. (Memang Aku Gila), M.Pd.(Magister Pamere Dosen), MH (Menjual Hukum), M.Si/MM (Mencari Susu Ibu/Malam-Malam) dan sebagainya.

Mereka mengejar gelar akademis demi naiknya naiknya pangkat dan karena memang gila jabatan.Atau untuk mempertahankan kegilaan terhadap jabatan yang diembannya dengan ‘gelar gila’ atau ‘gila gelar!’

Apabila dilaksanakan pemutihan di lingkungan dinas/intansi/DPR/DPRD, tentu tak sedikit akan ditemukan ijazah Aspal (asli tapi Palsu), baik segi perolehannya, maupun legalitas embaga yang mengeluarkan ijazah.Ini diperlukan keberanian pihak yang berkompeten untuk berani menertibkannya. Tapi ini beresiko, malah bisa-bisa yang menertibkannya pun harus ditertibkan.

Sebenarnya gelar akademik itu hanya relevan apabila dipakai di lingkungan akademis kampus perguruan tinggi karena memang dunianya.Tapi sekarang di kantor dinas, pemda, DPR/DPRD, perusahaan dan para pejabat, dengan bangga mencampurkan gelar di balik namnya seperti H.Cepot Dawala, Drs.,MBA, M.Si,M.Pd,M.P., membuat kita berguman,”Wowww kereen!BAnyak amat gelarnya?! Gila kali!?”

Sebenarnya gelar atau sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan digunakan oleh lulusan perguruan tinggi yang berhak memiliki gelar atau sebutan tersebut.Penggunaan gelar dan atau sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan atau dalam bentuk singkatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penggunaan gelar akademik yang diperoleh dari perguruan tinggi luar negeri harus digunakan dalam bentuk asli sebagaimana diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan, secara lengkap atau dalam bentuk singkatan.

Pemberian gelar doktor kehormatan (Doctor honouris causa) dianugerahkan kepada tokoh yang dianggap perlu mendapatkan penghargaan tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan ataupun kebudayaan.

Satu hal yang wajar dalam teori pemasaran yakni ada Supply and Demand, banyak orang yang menginginkan (want) dan membutuhkan (need), maka harga pasar naik.Semakin banyak orang yang membutuhkan dan menginginkan gelar akademis, maka semakin banyak lembaga penyedia jasa pemberi gelar akademis, baik yang legal mapun yang ilegal. Mungkin semakin murah atau semakin mahal harganya (cost).

Sebaiknya bagi mereka yang membutuhkan ijazah dan gelar akademis, pilihlah perguruan tinggi yang jelas legalitas formalnya diakui oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), SK Mendiknas atau Kopertis/Kopertais.Daftar perguruan tinggi yang legal dapat dilihat di Buku Direktori Perguruan Tinggi. Pilihlah anda kuliah di perguruan tinggi yang kampusnya jelas.Ada dosen, ada perkuliahan, lembaganya jelas, dan sistem proses belajar mengajarnya jalan. Tak kalah penting, pilihlah perguruan tinggi yang yang brand image-nya diterima pasar. Alangkah tepat apabila melaksanakan kata-kata klise “teliti sebelum membeli,” kalau anda tidak mau dikatakan “Gila Gelar” atau “Gelar Gila!”

Apabila fenomena di atas dikaitkan dengan keberadaan dan hakikat keberadaan manusia, ke manakah sebaiknya pendidikan itu diarahkan?Jawabannya untuk pembentukan kepribadian manusia, yaitu mengembangkan manusia sebagai makhluk individu, sosial, susila, dan makhluk beragama (religius).

Saat ini kita perlu bersama-sama mengenali berbagai elemen dalam sistem pendidikan kita secara mendalam sehingga dapat difungsikan dan dikembangkan. Di sinilah persoalan pentingnya penguasaan pendekatan sistem untuk mengkaji masalah-masalah, kelemahan, dalam mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Dengan demikian akan tampak peninjauan secara mikro maapun makro berdasarkan pendekatan sistem, sebagian atau seluruhnya, bertahap atau sekaligus. Keputusan ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan secara optimal, produktif, efektif dan efesien.***


Melayani Hypnotherapi & Hypnotis Training Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 58640EF8, atau https://drgumilar.wordpress.com/2014/01/15/hypnosis-shot-indonesia/ ***

Komentar ditutup.