PROFESIONALISME DAN SERAGAM KERJA


Siang itu sebelum pergi ke masjid untuk salat jumat, saya ngobrol dengan seorang famili. Obrolan ringan mengalir seputar pekerjaan, atau usriplah. Katanya ia baru saja mewawancarai para pelamar yang ingin kerja di tempat dirinya bekerja.Info tentang lowongan kerja tidak berupa iklan di media massa, tapi hanya tempelan di kaca.Tapi pelamar datang bejibun, persis orang berebut jatah BLT.
Yang bikin senyam-senyum famili saya ternyata para pelamar rata-rata anak muda yang sudah ‘pengalaman’ melamar kerja dan bekerja.Di surat lamaran ngajereret daftar pengalaman kerja dari ‘a’ hingga ‘z’. Ketika ditanya, De, apa masih ada pengalaman kerja yang belum dicantumin? Jawabnya, “Oh, masih banyak Pak,hehehe…”
Lalu kalau sudah banyak pekerjaan yang pernah dilakukan kenapa masih terus cari pekerjaan baru?
Jawabnya rata-rata bilang,”Mungpung masih muda,cari pengalaman kerja seabrek kan boleh-boleh saja Pak?”
Famili saya hanya tersenyum kecut, lebih kecut dari buah lobi-lobi yang diapain saja tetap kecut bin haseum.
Dari sekian pelamar itu banyak juga yang sudah kenal dengan famili saya itu.”Eh, bukankan Aa yang kerja di ACDC? Kan perusahaan ini juga bermitra dengan ACDC? Kenapa lari ke sini? Jawabnya,’Hehehe, benar Pak, tapi kayaknya di perusahaan ini lebih enak, Pak.” jawabnya.

Pindah-pindah Kerja
Inilah yang sedang menjadi fenomena dunia kerja di Indonesia saat ini.Jutaan anak muda kesulitan mencari pekerjaan, sementara yang sudah bekerja malah terus pindah-pindah kerja.
Tengoklah di daerah, di kota-kota kecil gejala ini terus terjadi. Anak-anak kita yang gagal di tes CPNS bergerilya dari satu kerjaan ke kerjaan lain.Hanya dalam satu tahun saja si Mamat dan Neng Ani, mampu menghasilkan 5 seragam kerja tapi tidak menghasilkan banyak uang apalagi keahlian kerja. 10 bulan lalu mereka berbaju kerja sebuah deler motor, tampang keren, gagah, cantik. gaji, transport lumayan, tapi karena gagal mengejar target penjualan,akhirnya hengkang ke deler mobil. Di deler mobil gajinya Rp 2 juta sebulan tapi dengan syarat dalam sebulan harus mampu menjual 5 unit truk! Nyerah lagi,gimana mungkin ia bisa mencari 5 pembeli kendaraan segede itu, padahal kota tempatnya bekerja hanya sebuah kota pensiun! Akhirnya mereka ngelamar kerja ke bagian promosi suplemen vitamin.Ganti seragam,bergabung dengan cewek-cowok cantik dan ganteng.Tugasnya hanya menawarkan suplemen energi yang iklannya di teve diperankan artis bahenol, menggoda dan bergai-rah.Tapi kerjaan itu lagi-lagi hanya jadi pengisi waktu dan dijalani sambil hiburan dan tebar pesona saja.Lalu pindah lagi, Neng Ani jadi model sepeda motor merek Jepang yang dipajang di halaman sebuah mall. Busananya aduhai. paha ngaboleklak, pinggang telanjang hingga nampak udel, pantat dan CD. Kerjaannya cuma duduk-duduk di motor yang hendak dijual, paling cuma senyum menyodorkan brosur kreditan motor pada orang yang hilir mudik keluar masuk mall.
Ia tidak tahu beberapa lelaki nakal di pojokan mall jelalatan sambil bergurau.
“Eh, tau gak, Coy? Itu cewek dibayar sehari 400 ribu!”
“Ah. masa, gede amat!?
“Lho, iya, karena cuma paha dan puser yang dipamerinnya.”
Oh, gitu, ya. Kalau bajunya hanya nutupin dada berapa bayarannya?
“Sejuta sehari!”
“Kalau ulutud?”
“Seratus juta! hahahaha….”
Karena Neng Ani tak tahu gurauan itu ia cuek aja, yang penting kerja begitu dapat bayaran. Ngobral aurat gak jadi pikiran. Gak tahu ia dapat upah yang bener berapa, tapi sebulan kemudian bersama temannya yang lain mereka jadi seles rokok.Ganti seragam dan lagi-lagi pamer paha, puser dan pinggang.
Terakhir Neng Ani Cs. ketahuan kerja di counter HP, ganti lagi seragam yang penuh logo HP dan pulsa.Hari senin pakai telkompel, selasa I am tree, rabu indohoy, kamis bleki sell, jumat engsel, sabtu semuanya dipake hanya beda jam!
Konon kerja di celuler lebih asyik, bagi yang ngejomlo itung-itung cuci mata cari jodoh.Sebab orang yng datang ke seluler komplit, mulai dari yang jalan kaki, naik motor hingga yang bawa sedan terbaru. Kerja di seluler juga gak rumit tinggal pijit nomor pesen pulsa. Beda kalau kerja di kantoran swasta yang melayani kebutuhan publik. Ngeri kalau harus menghadapi complain konsumen.
Setahun pas Neng Ani Cs bingung cari kerjaan.Pengalaman kerja sudah segudang, seragam kerja selemari, tapi penghasilan belum juga memuaskan. Padahal banyak diantara mereka yang berpendidikan diploma dan S-1 dengan spesialisasi keahlian.

Profesionalisme ke manakah dirimu?
Mencermati ilustrasi di atas, kita jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya keahlian dari anak-anak kita itu? Terampil dalam bidang administrasikah? Pemasaran?  Teknik? Atau komunikasi? Sebab nampaknya hampir semua orang bisa masuk dalam bidang-bidang pekerjaan yang disebutkan di atas. Hanya sudah barang tentu kita meragukan profesionalisme mereka.
Andrias Harefa, penulis buku, mengatakan setidaknya ada enam prilaku dan sikap seorang yang profesional, pertama ia memiliki kebiasaan belajar dengan lahap di universitas kehidupan sehingga ia selalu mengejar standar kesempurnaan. Ia memperlihatkan kinerja dan karya berkualitas tinggi, sebagai bukti ia kompeten di bidangnya.
Kedua ia bekerja tidak semata  mencari nafkah lahiriah, tapi didorong oleh cinta, kemanusiaan dan tanggung jawab.Pekerjan dilakukan untuk sesuatu yang luhur dan terpuji. Misalnya seseorang memutuskan menjadi guru  demi mencerdaskan kehidupan masyarakat, seorang berprofesi hukum demi menegakan keadilan dan kebenaran. Menjadi politikus demi menegakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Ketiga ia selalu melayani dengan hati demi kepuasan masyarakat, konsumen, atau pelanggan. Ia tidak selalu berpikir apa yang dapat diperoleh tapi apa yang dapat saya berikan. Keempat, profesional sejati menunjukkan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Ia tidak takut menderita, tapi takut tidak memberikan yang terbaik. Ia tidak takut kegagalan, tapi takut tidak berbut apa-apa. Ia tidak takut pada orng yang ‘membunuh’ tubuhnya atau atasan yang akan memecatnya, tapi takut pda Tuhannya.
Kelima profesional sejati menundukkan diri, taat dan patuh pada nilai-nilai, kode etik, peraturan, rule of law dan hukum. Ia menunjukkan ketaatan sepenuh hati. Keenam profesional sejati selalu menjadi manusia yang pantas dibanggakan oleh masyarakat. Ia memelihara rasa malu dan itu mencegahnya melakukan hal-hal yang tercela.Ia bermoral dan berharkat martabat.Ia peka terhadp kesalahannya betapa pun kecilnya. Ia rela menerima sanksi atas kesalahannya bahkan mundur  dari jabatan tinggi sekalipun.
Sikap dan prilaku profesionalisme generasi millenium bangsa ini harus dibangkitkan, diciptakan dan ditradisikan. Dalam bekerja, baik PNS, maupun swastawan, tidak ada artinya bila mengejar  penghargaan dan keuntungan lahiriah semata atau demi sebuah kesenangan, main-main, dan setengah-setengah.    
   
Profesionalisme Guru
Soal bekerja, guru juga punya beberapa seragam kerja.Meski begitu seragam guru lebih bersahaja, tidak rame atau ngejreng. Ada baju KORPRI bagi yang sudah PNS. Ia me-nandakan diri sebagai pelayan masyarakat suatu bangsa dengan segala aturan kehidupan. Kedua seragam PGRI, ia seorang profesional dalam posisi, peran dan tugasnya mendidik, mengajari, mencerdaskan dan meningkatkan moral bangsa. Ada juga baju olahraga, ia menunjukkan bahwa kesehatan jiwa harus pula dibarengi kesehatan raga. Orang cerdas, pintar, penuh ide, kreativitas harus selalu sehat dan kuat. Tanpa kesehatan raga, aktivitas fisik, psikis, dan  lainnya takan jalan. Ia menyadarkan insan bahwa sebenarnya Islam pun lebih menyukai umatnya yang cerdas, sehat dan kuat.
Namun dalam kondisi dan situasi apapun guru tetap seorang guru. Meski berbaju petani, ia guru bagi petani lain. Berbaju muslim ia contoh bagi masyarakat, berbaju bebas di rumah ia contoh dan anutan keluarga. Guru boleh beragam seragam, atau berpindah tempat bekerja, namun bila pekerjaannya itu didorong rasa cinta, nurani luhur, memuliakan Tuhan serta harkat manusia, ia akan bertahan dalam profesinya meski gaji kecil, ia tetap bertanya apa yang harus kuberikan untuk anak-anak bangsa ini. Ketika pensiun atau meninggal baju-baju seragam seorang guru boleh hancur atau dimuseumkan di rumah, namun pengabdian, karya, pemikiran  dan teladan kehidupan tetap mengalir di belakang,  depan, samping kiri dan kanannya. Ketika tiba waktunya pensiun, ia rela mundur dari tugasnya mengajar di sekolah, tapi tak pernah pensiun dari tugasnya untuk kemuliaan dan keluhuran martabat sebuah bangsa.

Komentar ditutup.