SEBUAH UNGKAPAN HATI NURANI


Oleh: Drs. Aris Sution (Alm)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita sekalian. Amin. Sebagai hamba-Nya yang lemah kita mohon ampun dengan segala dosa yang telah kita perbuat, dosa pada Allah SWT. Allah Yang Maha Tahu dan Mengetahui segalanya.
Kita tentunya tak ingin pengabdian kita dirusak oleh siapa pun dengan cara apa pun, meskipun kita sadar akan untaian mutiara dari Pangersa Abah Sepuh (Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya – Tasikmalaya): “…Ulah medal sila lamun kapanah, jangan mengehentikan amal meskipun disakiti orang…”.
Kesabaran manusia ada batasnya serta tidak ditakdirkan untuk mempunyai ahlak seperti …
1.  Kita tak ingin disanjung, tapi tak ingin pula menyanjung;
2.  Kita tak ingin terhina, namun tak ingin pula menghina;
3.  Kita tak ingin teraniaya, namun tak ingin menganiaya baik lahir    maupun batin;
4.  Kita tak ingin diremehkan, namun tak ingin meremehkan;
5.  Kita tak ingin memiliki tanda jasa, namun cukup ingin berjasa karena sebaik-baiknya;
6.  Kita ingin mengabdi namun satu sama lain bentuk pengabdian tak akan berbeda.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, ini yang harus kita sadari bersama.
Sebagai umat yang sedang belajar ibadah dan belajar memegang amanah, kita perlu kondisi yang tenang, bersahaja, bersahabat, saling menikhlaskan  sesama umat ……..kembali kepada TANBIH Pondok Pesantren Suryalaya, kalau ada persoalan yang belum terselesaikan.
Kita tak ingin ada saudara kita yang:
1.  Menghujat tanpa batas;
2.  Menyinggung tanpa diukur;
3.  Menghina tanpa rasa;
4.  Meremehkan tanpa keramah-tamahan;
5.  Mengkritik tanpa pikir;
6.  Menuduh tak jenuh-jenuh.
Ungkapa nurani ini memang lebih diarahkan pada orang yang justru kita harapkan “jiwa ke-bapak-annya, kearipan budi, keteladanannya dalam berpikir dan beramal.
Mudah-mudahan atas izin Allah, diberikan suatu “kesadaran” yang kita harapkan bersama, tak keluar dari mulutnya suatu bahasa yang tidak mengena, bahasa yang banyak menyakitkan banyang orang binasa yang mengusik ibadah sesamanya.
Melainkan diharap keluar bahasa yang mengundang rasa kasih-sayang, bahasa ibadah, bahasa rasa yang bisa diterima logika bagi pendengarnya. Amin.
Mudah-mudahan ungkapan ini bisa menghentikan ucapan yang tak bermakna bagi pendengarnya dan berhenti sebelum Allah SWT menutup mulutnya dan benar-benar menghentikan ucapan salah kaprahnya.
Allah Maha Tahu…
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ampunilah dosa kami dan dosa umatnya. Berikanlah kami kedamaian untuk tenang ibadah pada-Mu. Amin Ya Robbal Allamin.
Wassalam

SEBUAH NURANI
Catatan:
1. Perbanyak dan sebarluaskan bila setuju pada ungkapan nurani ini.
2. Buanglah bila tak bermakna.
***(Salinan ini dibuat sesuai dengan aslinya, tanpa ada perubahan atau penambahan. Ditulis oleh beliau beberapa hari sebelum almarhum Drs. Aris Sution Waffat,  9 September Tahun 1997 dalam usia 37 tahun. Beliau adalah aktivis Perkoperasian di Pondok Pesantren (PP) Suryalaya – Tasikmalaya, yang dikenal berotak cerdas, dan kreatif. Banyak karya nyata yang disumbangkan untuk pengembangan system perekonomian PP Suryalaya)

Ditulis oleh: DR. GUMILAR, MM

Komentar ditutup.