PANUMBANGAN LANGGANAN BANJIR SEPANJANG ALIRAN SUNGAI CITANDUY..?!!


PANUMBANGAN LANGGANAN BANJIR SEPANJANG ALIRAN SUNGAI CITANDUY..?!!

Banjir Panumbangan

Santri Ponpes Nurul Firdaus Pasca Terjadi Banjir

(CIAMIS,01/04/2011) Seluas 115 hektar areal lahan pesawahan dan kolam milik penduduk yang ada di lima desa di Kecamatan Panumbangan, terendam banjir. Tidak hanya itu, hujan yang mengguyur sejak Kamis (20/5) sore hingga malam hari di kecamatan itu, merendam empat rumah penduduk.

Dikatakan Camat Panumbangan Krisna, S.Sos, banjir tersebut berawal ketika hujan mengguyur pukul 16.00 WIB hingga pukul 24.00. WIB. Karena minimnya saluran irigasi serta lahan pesawahan di lima desa yakni Kertaraharja, Sukakerta, Tanjungmulya, Sindangherang dan Panumbangan, terendam.

Banjir di ponpes nurul firdaus1

Tampak Bangunan Warna Orange Ponpes Nurul Firdaus Terkepung Banjir

Lanjut Camat Panumbangan ini, banjir juga menggenangi badan jalan setinggi 50 Cm. Terutama Jalan Raya Panumbangan-Panjalu. Akibatnya, arus kendaraan sempat terganggu beberapa jam.

“Banjir terjadi mulai jam 12 malam. Jalan baru bisa normal pukul 07.00 pagi. Sementara sampai saat ini areal persawahan masih terendam setinggi satu meteran,” jelasnya.

Lokasi yang terparah dilanda banjir adalah Desa Kertaraharja terdiri dari empat dusun yaitu: Dusun Panoongan, Dusun Sukapulang Wetan, Dusun Sukapulang Kulon, dan Dusun Cikopeng. Dusun Panoongan merupakan dusun yang paling banyak menderita kerugian diantarana blok yang terendam banjir dengan ketinggian lebih dari 2 (dua) meter adalah blog Jegu, blok Cikarees, blok Bojong, di blok ini mencapai puluhan rumah rusak ringan. Rumah milik warga yang terendam diantaranya milik: Iya (30), Nuryanti (40), dan lainnya.

Adapun rumah penduduk yang terendam di antaranya milik warga di Desa Tanjungmulya. Yaitu rumah milik Anda (70), Yoyoh (50), Ulih (40), dan Uus (35).

“Banjir masuk ke sebagian rumah penduduk, sehingga ada di antara penduduk yang dievakuasi ke rumah tetangga,” jelasnya.

Camat Krisna mengaku belum mengetahui jumlah kerugian akibat bencana banjir tersebut. Tanaman padi berusia 30 hari serta kolam-kolam ikan yang ikut terendam masih ditaksir kerugiannya oleh pemerintahan desa masing-masing. Namun camat memprediksi jumlah total kerugian bisa mencapai puluhan juta seandainya genanan banjir tidak segera surut.

Sementara salah seorang korban yang rumahnya terkena banjir Yoyoh (50), genangan air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 24.00. Hingga pagi hari, lanjut dia, ketinggian air yang merendam rumahnya mencapai 30 Cm.

“Ada sebagian warga yang pindah ke rumah tetangga. Memang rumah-rumah di wilayah sini sudah biasa kebanjiran. Jadi, ada sebagian warga lainnya yang tetap bertahan di dalam rumah menunggu genangan air surut. Kecuali yang rumahnya benar-benar sudah tidak bisa ditinggali lagi,” tuturnya

Terendam Banjir

Bangunan Perpustakaan Ponpes Nurul Firdaus Terendam Banjir

Anggota DPRD Ciamis dari Fraksi Demokrat Yuli meminta agar pemerintah memperhatikan kehidupan petani di Panumbangan. Pasalnya setiap musim hujan sungai citanduy selalu meluap dan mengenangi ratusan hektar areal pesawahan.

Menurut Yuli, keluhan masyarakat panumbangan sudah lama disampaikan ke DPRD namun sampai saat ini belum ada tindakan dari pemerintah. “Kita berharap ada program untuk menangani banjir di panumbangan,” kata Yuli, senin (9/5)

Yuli mengaku sudah berusaha menghubungi Balai Besar wilayah Sungai (BBWS) Citanduy untuk memprogramkan rehabilitasi sungai citanduy termasuk peninggian tanggul, namun tetap memerlukan dorongan dari Pemkab Ciamis agar realisasi program tersebut cepat terwujud.

Hal tersebut dibenarkan oleh Asep Suarman petani di Panumbangan yang selalu dipusingkan dengan banjir musiman yang menggenangi sawahnya. Ia berharap ada pembangunan tanggul sungai citanduy sehingga air tidak melimpah ke pesawahan. “ Tiap tahun kalau musim hujan sawah kami kebanjiran terus,” katanya

Banjir juga merusak lima hektar kolam ikan, hingga mengakibatkan kerugian puluhan juta rupiah. Derasnya banjir juga menyebabkan areal sawah yang terendam akan mengalami gagal tanam, karena sebagian di antaranya tanaman padi yang rata-rata berumur satu bulan tersebut hanyut oleh air bah.

Pantauan “PRLM” di lokasi menyebutkan banjir sawah yang terendam banjr berada di enam desa yaitu Desa Kertaraharja, Tanjungmulya, Sukakerta, Panumbangan, Medanglayang dan Sindangherang. Sementara itu banjir juga merendam sawah di wilayah Desa/Kec. Sukaresik, Kab. Tasikmalaya yang berbatasan dengan Kec. Panumbangan.

Sementara itu empat rumah yang terendam banjir milik Kepala Desa Panumbangan Aan Komarudin, sedang tiga lainnya di RT 1 RW 9 Dusun Cibeureum, Desa Tanjungmulya, milik Anda (70), Yoyoh (50), Ulis Nanang (48).

Banjir juga sempat memutus arus lalulintas antara Kecamatan Panumbangan dengan Kecamatan Panjalu, tepatnya di Desa Tanjungmulya. Hal itu disebabkan karena banjir menutup jalan hingga sepanjang 100 meter lebih dengan ketinggian air mencapai 50 cm.

Menurut Kepala Desa Panumbangan Aan Komarudin, sebelum banjir pada hari Kamis (20/5) sejak pukul 17.00 WIB – 23.00 WIB turun hujan lebat. Di tengah guyuran hujan air Sungai Citanduy meluap hingga persawahan dan rumah yang lokasinya rendah. “Tidak hanya sawah, rumah saya juga terendam banjir. Di dalam rumah air setinggi 40 centimeter. Untung beberapa perabot sepat diselamatkan dengan diletakkan di atas meja dan lemari,” ungkapnya.

Lebih lanjut diungkapkan di dalam rumah banjir surut sekitar pukul 6.00 WIB. Dikatakan puncak ketinggian banjir mencapai 1,5 meter dibandingkan kondisi normal. “Kalau yang di dalam permukiman memang sudah surut, namun yang di sawah air masih tinggi,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Medanglayang, Amas Ma’sum mengungkapkan selain sebagian wilayahnya terendam banjir. Hujan lebat juga mengakibatkan Bukit Munjul setinggi delapan meter dan pajang sekitar 12 meter, longsor. Material tanah nyaris menimbun badan jalan utama antara Medanglayang ke Panjalu. Selain itu tembok selokan yang belum selesai dibangun di Dusun Sukamulti juga ambrol.

Gumilar Banjir

Gumilar Berada di Tengah-tengah Lahan Terendam Banjir

Sementara menurut Dr. Gumilar, S.Pd.,MM,  Pimpinan Umum Pondok Pesantren Nurul Firdaus-Panumbangan, menyatakan banjir ini langganan terjadi tiap musin penghujan (tahunan). Beberapa penyebab banjir diantaranya perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke Sungai Citanduy, erosi di hulu sungai akibat hutan masyarakat yang gundul, dan curah hujan yang berlebih.

“Banjir yang terbesar musim ini diperparah oleh    program rehabilitasi Sungai Citanduy yang tidak konsisten dalam pelaksanaannya oleh Balai Besar wilayah Sungai (BBWS) Citanduy. Program yang tidak tepat diantaranya adalah pembangunan tanggul sepanjang sungai yang tidak memperhitungkan daya tampung debit air apabila banjir terjadi. Penanggulan pinggir sungai citanduy yang tingginya hanya satu meter tidak efektif menahan banjir karena kualitas tembok yang rendah sehingga jebol” papar Gumilar.

Selain itu Gumilar menyatakan: “Luas antara pinggir sungai Citanduy dengan tanggul terlalu sempit hanya dua meter, sehingga pada saat banjir, daya tampung sungainya rendah. Sementara ini penanggulan sungai Cianduy dianggap sebagian warga sepanjang aliran sungai Citanduy justru dianggap semakin memperparah dan memperlama waktu banjir.”

Gumilar berharap pemerintah bekerjasama dengan masyarakat menggalakkan penghijauan sepanjang aliran sungai Citanduy, melakukan sosialisasi kelestarian sungai Citanduy, dan peninjauan serta penyempurnaan program rehabilitasi sungai Citanduy yang dilakukan Balai Besar wilayah Sungai (BBWS) Citanduy.******


Melayani Hypnotherapi, Hypnotis Training, Ruqyah Syar’iyyah, & Konsultasi Bisnis Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 58640EF8.

Komentar ditutup.