HUKUM MEMATOK UPAH DALAM RUQYAH


HUKUM MEMATOK UPAH DALAM RUQYAH SYAR’IYYAH

Hukum Mematok Upah dalam Ruqyah

Setelah Therapi Ruqyah Syariyyah Tidak Ada Seorang pun yang Bisa Menjamin Kesembuhan Secara Mutlaq

(CIAMIS,04/10/2016). Bahwa mengambil upah dalam ruqyah hukumnya BOLEH dan HALAL. Fatwa-fatwa ulama yang membolehkan pengambilan upah dalam ruqyah diantaranya sebagai berikut:

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqolany Rahimahullah berkata dalam Fathul Baary (Jlid 4 hal.457) mengenai hukum mengambil UPAH dalam ruqyah:  اتفاق الأئمة الأربعة و غيرهم من العلماء على جواز أخذ الأجرة على الرقية “Para imam yang empat dan ulama-ulama selain mereka telah bersepakat DIBOLEHKANNYA mengambil upah dari ruqyah yang dilakukan”.

Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa’id yang ada dalam Ash-Shahihain, begitu pula haditsnya Ibnu ‘Abbas RA yang di dalamnya SAW bersabda: إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله ” Upah yang paling berhak untuk kalian ambil adalah dari kitabullah”.

Hukum Mematok Upah Ruqyah

….boleh kita mengambil upah yang disyaratkan saat pasien sudah mengalami kemajuan dan perubahan pasca ruqyah…

Hukum orang yang mematok/mensyaratkan upah dalam praktek ruqyahnya memiliki syarat-syarat tertentu. Mengenai upah yang ditarif para ulama sudah menjelaskannya diantaranya:

Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni jilid 5 halaman 541 beliau berkata: قال ابن أبي موسى : لا بأس بمشارطة الطبيب على البراء لأن أبا سعيد حين رقى الرجل شارطه على البراء Ibnu Abi Musa pernah berkata: “Tidak mengapa seorang thabib mensyaratkan upah/menarif atas sebuah kesembuhan, karena Abu Sa’id ketika ia meruqyah seorang lelaki ia menentukan upah atas kesembuhannya..”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berkata dalam Majmu’ Fatawa jilid 20 hal.507 : إذا جعل الطبيب جعلا على شفاء المريض جاز، كما أخذ أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم الذين جعل لهم قطيع على شفاء سيد الحي، فرقاهم بعضهم حتى برأ،فإن الجعل على الشفاء لا على القراءة “Apabila seorang thabib menentukan upah atas suatu kesembuhan pesakit, maka hal itu diperbolehkan..

Sebagaimana para sahabat Nabi yang menentukan upah atas kesembuhan Kepala Desa dengan beberapa ekor kambing, diantara sahabat tersebut ada yang meruqyah hingga akhirnya SEMBUH, maka SESUNGGUHNYA (PENETAPAN) UPAH itu (dibolehkan) karena tercapainya KESEMBUHAN, BUKAN ATAS BACAAN (ruqyahnya)…”

Syaikh Jibrin berkata: لا مانع من أخذ الأجرة على الرقية الشرعية بشرط البراءة من المرض و زوال أثره، و الدليل على ذلك حديث أبي سعيد “Mengambil upah dalam ruqyah syar’iyyah TIDAKLAH TERLARANG, dengan SYARAT pasien SEMBUH dari penyakitnya dan efek penyakitnya HILANG.. dalil mengenai hal itu adalah haditsnya Abu Sa’id ..”.

Yang menyembuhkannya Allah SWT, bukan peruqyah. Yang dimaksud kesembuhan itu adalah USAHA MAKSIMAL dalam mencapai kesembuhan pasien… boleh kita mengambil upah yang disyaratkan saat pasien sudah mengalami kemajuan dan perubahan pasca ruqyah.. minimal ada perubahan positif yang terlihat jelas dan dirasakan pasien pasca ruqyah yang dilaksanakan, bukan kesembuhan secara mutlaq tanpa kambuh-kambuhan lagi.

Hal ini dijelaskan Syaikh Hilmy bin Muhammad bin Isma’il Ar-Rasyidi: ولا يستطيع أحد أن يضمن ذلك مطلقا و المتعارف عليه في حصول الشفاء الذي يستحق به الجعل هو حصوله في ذلك الوقت “Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kesembuhan secara mutlaq.. dan orang yang faham dalam mencapai suatu kesembuhan adalah orang yang berhak menerima upah yang ditarif, yaitu dengan cara memfokuskan kesembuhan pada waktu dia mengobati..”

Intinya walau mungkin kambuh lagi tapi setidaknya sudah mencapai kesembuhan saat diruqyah.. adapun jika kena ganggu lagi pasca ruqyah, maka itu diluar tanggungan peruqyah karena pasca ruqyah adalah tugas masing-masing individu pasien untuk menjaga perlindungan Allah … Jika keadannya demikian, maka tarif yang dipatok diperbolehkan untuk diambil dan HALAL hukumnya…

Adapun jika tidak ada perubahan apa-apa, apalagi hanya dibiarkan begitu saja, baca sekedar baca, ngobatin tanpa fokus untuk memaksimalkan pengobatan, hanya sebagai ajang bangga-banggaan “menaklukkan jin” maka upah yang ditarif menjadi HARAM dan TIDAK BOLEH diambil… karena hal tersebut sama saja menipu dan memakan harta manusia dengan cara yang batil…***


Melayani Hypnotherapi, Hypnotis Training, Ruqyah Syar’iyyah & Konsultan Usaha Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 58640EF8***

Komentar ditutup.